Malam Terakhir
Kesunyian yang mencekam sangat membelenggu hati Vita. “Vit,
sini dong, ko sendirian aja sih!”
Vita hanya mengangguk dan tersenyum. Ia tetap diam. Tak
bergeming dari tempat ia berdiri.
Jakarta
malam hari, ah begitu mempesona, penuh gemerlap oleh tebaran lampu-lampu malam,
vita membatin. Rasanya, baru malam ini ia menyadari begitu gemerlapnya
Jakarta
di malam hari.
Tapi semua sudah sungguh sangat melelahkan, pikir Vita lagi. Seorang manusia,
jika kedudukannya di bumi sudah tidak mempunyai fungsi dan manfaat, ada baiknya
disingkirkan, atau menyingkir dari kehidupan,” suara itu menggema memenuhi
seluruh relung jiwanya.
Vita, what’s wrong
with you, honey? Udah dong jangan bengong aja! It’s party time, girl!” Monique mencoba menarik Vita ketengah-tengah
arena pesta malam itu.
“Jangan terlalu dipinggir dong, ntar kamu ada yang narik loh! Yuks, waktunya dance nih!” Monique terus merajuk sambil terus bergoyang mengikuti
hentakan irama. Vita menghempaskan tarikan tangan Monique sambil menggeleng
perlahan. Wajahnya kaku. Dia tetap terdiam. Tersenyum. Dan pergi. Monique
terbengong melihat sikap Vita yang tidak biasa itu. Ia semakin menjauhi
kerumunan, menuju sudut gedung. Pesta yang diadakan di atap gedung bertingkat
paling tinggi di
Jakarta
itu semakin meriah. Musik-musik riang menghentak-hentak kencang menimbulkan
suara berdentum-dentum. Memekakkan telinga. Namun menambah ‘panas’ suasana
malam. Semua yang hadir menggoyangkan badan mengikuti irama. Bergerak,
berlenggak-lenggok, bahkan berjingkrak-jingkrak seirama hentakan musik. Bau
alkohol menyeruak dari mulut-mulut mereka. Vodka,
Beer, cognac, tequilla, bloody Mary, bacardi dan banyak lagi tersedia di sudut
ruangan. Seorang bartender berpakaian seksi pun siap menyuguhkan segala jenis
minuman yang diminta para tamu. Lampu Disco yang menggantung di tengah
ruangan—entah bagaimana caranya mereka memasang itu semua—memberikan nuansa mesum di seluruh lantai
dansa. Kemesuman semakin terasa menyelimuti suasana pesta yang ditingkahi
dengan suara desahan-desahan panjang dari beberapa pasangan yang asyik memadu
kasih di sudut-sudut ruangan.
Beberapa orang mulai terlihat meracau tidak jelas dan
bergoyang dengan limbung. Semua tampaknya sangat menikmati pesta malam ini,
kecuali Vita.
Ia tetap tak bergeming. Menatap kosong ke arah bangunan-bangunan
tinggi di sekitar gedung tempat ia berpesta kini. Biasanya dia begitu menyukai
pesta. Dua tahun terakhir, malam-malamnya selalu dilalui dari satu pesta ke
pesta lainnya. Ladies Night, pesta Lingerie, pesta thruth or dare, bahkan bachelor
party sekalipun, selalu ia tandangi. Bar,
cafe, dan discotheque di kawasan
Jakarta
, Bogor, dan
Bandung
ini telah habis ia jelajadi dari malam ke malam. Dimana ada pesta, biasanya
disitu ada Vita. Bergoyang. Dan mabuk.
Harus malam ini, vita membatin. Sudah tidak ada waktu lagi
dan buat apa menunggu lagi, semua sudah tidak berguna. Vita limbung. Namun
hatinya kian mantap kini. Jantungnya berdegup keras, seirama hentakan musik
yang kian memekakkan telinga. Bayangan demi bayangan melintas cepat di otak
Vita. Semakin cepat. Bagai sebuah kilatan projektor yang mengulas kembali
seluruh kisah hidupnya, yang tak seindah di novel-novel picisan itu.
“Vita, mama harus pergi nak!” Jangan nakal ya nak, jangan
menangis, mama benar-benar harus pergi sekarang. Hidup mama sudah tidak
berguna, makanya mama lebih memilih menghilang dari kehidupan ini, nak! Mama
sayang Vita!” Dikecupnya kening gadis cilik itu. Selanjutnya, ia ingat malam
itu mama tidur sambil memeluk Vita erat-erat. Tidak pernah terbangun lagi.
sejak saat itu Vita tidak pernah lagi bertemu dengan mamanya. Kata papa, mama
sudah pergi menemui Tuhan. Tapi kalau papa lagi mabuk dan marah-marah, ia
selalu bilang, mama mati, yah mati bunuh diri! Vita tetap tidak mengerti.
Dibenak gadis 5 tahun itu, suatu saat mama pasti kembali.
Benar saja, suatu kali papa datang membawa seorang perempuan
jelita ke rumah. Papa berusaha meyakinkan kalau perempuan itu adalah pengganti
mama buat Vita. Awalnya, perempuan jelita itu memang baik, sebaik mama. Namun,
lama-kelamaan sikapnya mulai berubah. Semakin lama, mama baru semakin bersikap
kasar dan selalu tak acuh kepada Vita. Jika Vita mengadu pada papa, papa pasti
bilang, Vita yang nakal, Vita lah yang membuat mama baru kesal sampai
marah-marah. Jika Vita menangis memanggil-manggil mama, biasanya mama baru
marah dan pasti bilang seperti yang dibilang papa; “mama lo tuh udah mati, bunuh diri!”
Peristiwa itu sudah lama berlalu. Tapi entah kenapa, bagai
kesetanan, cerita itu tiba-tiba mengusik hari-hari Vita lagi. Sejak kematian
papa, yah, sejak kematian papa sebulan yang lalu, peristiwa demi peristiwa itu
terus bermunculan, berloncatan tak menentu dalam labirin jiwanya. Bayangan mama
kembali muncul saat ia melihat papa terbujur kaku di peraduannya. Semua orang
memberitahu Vita kalau papa meninggal karena sakit. Kata bibi, di akhir
hidupnya papa kerap memanggil-manggil nama Vita. Beberapa saat lalu, memang
Vita sering menerima telepon dari papa. Tapi Vita tak peduli. Tidak ada
keinginannya untuk membalas telepon dari papa. Dibenaknya, teringat sikap papa
yang selalu tak acuh kepada Vita. Kasih sayang dari papa seakan sesuatu yang
asing bagi Vita. Tapi,…tapi saat dikabari papa meninggal, hal itu tetap membuat
Vita syok. Vita baru tahu cerita sesungguhnya dari bibi kalau papa ditemukan
tergantung kaku di kamar mandi. Kenapa..? Kenapa…? Kenapa papa musti bunuh diri, seperti mama
dulu! Vita terpaku saat terduduk disisi tubuh papa yang kaku. Ia tak tahu harus
berbuat apa. Menyesal ? untuk apa menyesal dan apa yang harus disesali? Kasihan
papa, mungkin beban hidupnya terlalu berat sampai memutuskan untuk
menyelesaikan hidup dengan cara begini?Apakah papa berpikiran seperti mama
bahwa keberadaannya sudah tidak mempunyai makna lagi sehingga sebaiknya ia
menghilang dari kehidupan?
The show must go on, hidup tetap harus dijalani, tapi
semua kini terasa gamang di jiwa Vita. Kebimbangan mulai melingkupi hari-hari
Vita. Kesepian, tak berguna, ketidakberdayaan, dan hampa, silih berganti
mengisi hari-hari Vita. Berbagai pertanyaan muncul, menggangu, dan menyerang
eksistensinya di dunia. Semua, semuanya itu meminta sebuah jawaban. Tapi, tapi
Vita tidak mempunyai jawaban itu! Dimana ia bisa mencari jawabnya? Dimana?
Siapa, siapa yang mampu menolongnya menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu??
Seorang manusia, jika kedudukannya di bumi sudah tidak
berguna, sebaiknya disingkirkan atau menyingkir dari kehidupan. Lagi, kata-kata
itu terngiang di telinga Vita. Begitu memekakkan sehingga ia tak mampu
mendengar teriakan orang-orang di sekitarnya.
Tiba-tiba pesta menjadi mencekam. Selanjutnya, teriakan
histeris dan isak tangis pecah ditengah suasana yang mencekam itu. Bunyi musik
terus berdentum-dentum kencang, namun tidak ada lagi yang bergoyang. Semua
terdiam kaku dan hanya mampu memandang ngeri kejadian itu.
Seorang gadis terjun bebas dari tempat mereka berpesta,
melayang, dan menghempas di bumi. Vita, sang gadis pecinta pesta itu, lebih
memilih menyingkir dari peradaban sebagai jawaban atas semua pertanyaan
hidupnya.
BMS Plant Cimanggis, XII/20/04,15:52
Created by dv